Firasat VS Terawangan

Firasat / Tawasum adalah salah satu metode dalam menentukan tindakan seorang mukmin dalam urusan dunia dan akhiratnya.

Alloh Ta’ala berfirman ;

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـلْمُتَوَسِّمِيْنَ

“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi ORANG YANG MEMPERHATIKAN TANDA-TANDA” (Surat AlHijr Ayat 75)

Rasululloh Shallohu Alaihi Wasallam dawuh ;

اتقوا فراسة المؤمن فانه ينظر بنور الله

” Takutlah kalian pada firasatnya orang mukmin karena dia melihat dengan cahaya Alloh ” ( HR At Turmudzi 3125)

Ulama’ Shufi Imam Abul Qosim Al Qusyairi dawuh :

“Firasat adalah suara batin yang masuk ke dalam hati dan meniadalan kontradiksi. Setiap suara hati mempunyai nilai hukum yang menguasai hati. Kata Firasat merupakan pecahan kata farasa yg mengandung makna menerkam atau memburu seperti kata Farisah As-Sabu’u yg artinya terkaman buas, Akan tetapi makna pembandingnya tidak bisa di artikan dalam konteks hati secara apa adanya. KEBERADAAN-NYA MENGIKUTI KUALITAS IMAN, SETIAP ORANG YANG BERIMAN-NYA LEBIH KUAT PASTI FIRASATNYA LEBIH TAJAM.” (Kitab Induk Tasawuf, Risalatul Qusyairiyyah hal. 231)

Sedangkan “Terawangan” bisa di lakukan oleh siapapun dan kapanpun walaupun orang tersebut ahli maksiat bahkan orang atheis sekalipun, yang paling familiar di telinga kita adalah “Terawangan Roy Kiyoshi”, untuk mendeteksi jenis jin, kesialan seseorang, meramal, mendeteksi masa lalu, mencari orang hilang dll. Kebanyakan Terawangan di lakukan oleh orang indigo dengan “bisikan ghaib” dari “teman Ghaib-nya” walaupun sebenernya bisa di lakukan tanpa bantuan jin dan tanpa tirakat.

Jadi, Perbedaan Urgen antara Firasat/Tawasum adalah pada kualitas KEIMANAN seseorang, sedangkan terawangan tidak membutuhkan Keimanan.

Firasat tidak butuh memejamkan mata …

Fiarasat tidak butuh tirakat …

Firasat tidak membutuhkan “pernafasan” …

Firasat tidak membutuhkan mantra …

Firasat tidak membutuhkan meditasi …

Firasat tidak bisa di minta …

Firasat tidak membutuhkan latihan …

Firasat tidak membutuhkan mengarahkan tangan ke suatu obyek …

Firasat tidak membutuhkan Prana, Reiki, Kundalini,Tenaga Dalam, Penguasaan Alam Bawah sadar,Pengaktifan Cakra …

Pernafasan, Prana, Cakra, Penguasaan Alam bawah sadar, Kundalini, Reiki, Bio Energi Dll tidak membutuhkan Keimanan, iapun bisa dilakukan oleh orang kafir sekalipun maka saya setuju alangkah baiknya tidak membawa simbul agama seperti “Ustadz, Gus, Kyai, Ajengan” hanya untuk mempromosikan jualan-nya karena memang tidak menyakut agama Islam.

Firasat akan muncul tiba-tiba seiring kekuatan Iman seseorang kepada Alloh Swt.

Kalau membandingkan antara Firasat VS Terawangan sangatlah tidak sebanding, Bukankah keimanan itu akan mengantarkan keridhoaan Alloh dan khusnul khotimah ?

Imam Qusyairi membahas Firasat pada bab maqomat au madaarij arbabi al suluk dalam kitabnya Risalatul Qusyairiyyah (Kitab Induk Ulama Tasawuf), ini menandakan bahwa Firasat adalah salah satu maqom atau tingkatan jalan pendakian para salik menuju wushul Ilalloh, bukan meramal atau mendeteksi Jin sebagaimana ucapan para dukun pijet dan dukun bayi ???

Kuatkan Iman, Pasti Alloh beri Jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.