Menasehati Marqiyah Agar Tak Menduga-duga Siapa Yang Mengirim Sihir

Setelah menyampaikan keinginananya untuk diruqyah. Seorang teman mendatangai rumah saya. Sejenak setelah bercakap-cakap, Kami bergerak menuju ke Griya Smart, tempat usaha yang kami jalankan selama ini. Saya kira hanya 1 atau 2 orang, Ternyata di sana sudah berkumpul 10 orang yang ingin diruqyah.

Setelah mengobrol singkat dan menyampaikan keinginan mereka kepada kami. Kami pun memulai prosesi untuk meruqyah dengan metode standart; inabah, air asma’ dan zalzalah.

Reaksi yang terjadi bermacam-macam, ada yang muntah, menangis, sesenggukan, dan lain lain. Selesai melaksanakan Ruqyah metode air asma’, kami persilahkan mungkin ada yang ke kamar mandi. Hampir semua peserta izin ke kamar mandi

Dalam Kisah ini, saya fokus pada si “ani” (nama samaran). Si ani ini menjerit hebat, menangis, dan lain sebagainya. Kami pun bergerak agak mendekat, kami lihat ada yang tidak umum di sini. Sebagaimana yang diajarkan guru kita, Salah satu tanda bahwa orang kerusakan adalah suara yang berbeda.

Tak lama, kami pun langsung menancapkan tongkat kami (terbuat dari kayu pohon bidara), si ani pun menjerit merasa kepanasan.

Terjadi dialog panjang antara kami dan si jin yang kemudian kami beri nama Hafidzoh.

“hafidzoh, sampean mau saya kirim ke masjid atau ikut pasukan Allah?”, tanya kami.

“kembalikan saya kepada yang ngirim saya”, pinta hafidzoh.

“lho, ya nggak boleh, sampean kan muslim, tidak usah kembali ke sana, kalau sampean dendam, apa bedanya kita sama orang tersebut. Ikhlas kan, biarlah Allah SWT yang akan membalasnya. Sampean saya kirim ke masjid istiqlal ya?”, jelas kami

“iya”, Jawabnya singkat.

“ya sudah, nama sampean hafidzoh, sampean muslim, sampean sy bantu kirim ke masjid istiqlal jakarta, sampean belajar Al-Qur’an disana sesuai nama sampean”, kata kami menekankan untuknya agar memoelajari Islam.

Saya pun membantu hafidzoh untuk keluar dari tubuh ani dan mengirimnya ke masjid istiqlal jakarta

Alhamdulilah, seketika si ani langsung diam lemas. Kami pun lanjut melakukan netralisir.

Allahu Akbar, semakin menambah keyakinan kami, Alqur’an sebagai syifa’ baik penyakit medis maupun non medis

Setelah selesai, hasil pembicaraan, ternyata si ani telah berpisah dengan suaminya selama 4 tahun. Suaminya ingin rujuk, tapi si ani tidak mau

“Ustadz, Apakah mantan suaminya yang mengirim tadi?”, tanya ibu si ani kepada kami.

“wallahu a’lam, kami tidak mau menduga duga. Kami tidak tau. Yang terpenting gangguan yang ada pada anak Njenengan sudah hilang dan sudah dinetralisir”, jawab kami

Kami pun mengajak si ani dan keluarganya untuk banyak banyak istighfar, memohon ampun dan pertolongan kepada Allah SWT, banyak banyak baca Al-Qur’an diniatkan untuk berobat dan membentengi diri, insyaAllah hal hal demikian tidak akan masuk kedalam diri kita

Demikian sedikit kisah yang kami sampaikan, semoga dapat menjadi motivasi dan tambahan pengalaman bagi sodara2 sekalian

Salam Persodaraan,

Kang Akhlis, Praktisi JRA LKP Situbondo

Leave a Reply

Your email address will not be published.