Mengapa JRA Menjadi Sayap LDNU?

KH. Said Aqil Siroj sebagai Ketua Umum PBNU ketika berbincang dengan Pengurus Pusat dan Wilayah JRA di kantornya beberapa waktu lalu menceritakan tentang nenek moyang beliau seperti Mbah Kyai Idris Kamali, Mbah Kyai Mahrus Ali, dan tukang-tukang suwuk lain dari Kasepuhan Cirebon, dimana beliau-beliau itu juga ternyata memakai media suwuk/jampi/pengobatan sebagai salah satu media dakwah ketika itu. Walhasil suwuk atau istilah milenial sekarang dikenal dengan istilah ruqyah adalah bagian tidak terpisahkan dari dakwahnya para wali dan para ulama dari zaman dahulu.

Penjelasan Kyai Said: “Bahwa Suwuk Kasepuhan Cirebon (Sunan Gunung Jati) cenderung dilakukan dengan memanfaatkan “kearifan lokal”, terlihat dari susunan bahasa suwuk/jampi yang dipakai selalu dimulai dengan *Bismillahirrohmanirrohim*, kemudian disambung dengan bahasa-bahasa lokal, lalu di tutup dengan kalimat *Laa ilaaha illalloh Muhammadurrosulloh*. Jika tidak diawali dengan bismillah dan tidak diakhiri dengan Laa ilaaha illallah Muhammadurrosulloh, maka suwuk itu tidak akan mujarrab. Demikian itu adalah cara berdakwah Sunan Gunung Jati dengan media suwuk. Jika mujarrob, terkabul, maka semua dikembalikan kepada Allah._
_Secara tidak langsung Suwuk Kasepuhan Cirebon itu meng”edukasi” masyarakat Cirebon untuk beriman kepada Allah dan Rosul-Nya. Begitulah diantaranya, cara-cara Wali berdakwah untuk menyebarkan Agama Islam di Cirebon khususnya dan di Nusantara pada umumnya”.

Maka beliau pun setuju dengan usulan dari beberapa pihak baik dari JRA maupun PBNU yang lain dan memutuskan seketika untuk Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) ini lebih tepat menjadi bagian dari dakwahnya NU dan dalam struktural organisasi menjadi sayap kedua bagi Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) selain sayap pertama LDNU yang sudah ada, yakni Asosiasi Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (ASBIHU).

Penulis:
Gus Ali Shodiqun (Ketua PW JRA Jawa Tengah)

One Reply to “Mengapa JRA Menjadi Sayap LDNU?”

Leave a Reply

Your email address will not be published.