Menjelaskan ke Siswa SMP bahwa Ruqyah bukan kesurupan

Perbukitan Menoreh di Yogyakarta sudah bukan tempat asing di telinga masyarakat, terutama destinasi alam dan pemandangan indah di sekitar Kalibawang, Kulonprogo. Berjarak sekitar 25 km dari kota Yogyakarta, sebuah kawasan di Boro, Kalibawang menjadi tempat dakwah Ruqyah Aswaja Tim Sembada Sleman pada acara Pesantren Alam SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta.

Desa Boro sendiri merupakan suatu kawasan di wilayah Kalibawang yang terkenal dengan mayoritas penduduknya beragama Katholik. Maklum dan wajar ketika masuk ke sana kita disambut sekawanan anjing yang memang menjadi peliharaan masyarakat sekitar. Di desa tersebut terdapat Gereja St. Theresia Lisieux yang berdiri megah lengkap dikelilingi sekolah Kahtolik dan rumah sakit. Di sana kegiatan misionaris memang sangat kental walaupun beberapa warga masih memeluk agama Islam.

Pesantren alam yang diselenggarakan oleh SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta merupkan kegiatan rutin sekolah. Dinamakan pesantren alam karena kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah pemahaman keagamaan kepada murid-murid dengan cara menginap seperti pesantren kilat, tetapi lokasinya jauh dari keramaian dan menyatu dengan alam yang benar-benar asli seperti di wilayah Desa Boro, Kalibawang, Kulonprogo. Selain itu kegiatan ini juga untuk membantu dan berdakwah di wilayah desa Boro yang terkenal sebagai desa Katholik. Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahunnya ini adalah ruqyah masal. Tim Sembada Sleman yang dimotori Ust. Hendyka beserta Kyai Puji, Kyai Munawir, dan Gus Nasrudin datang untuk mengadakan ruqyah masal kepada murid SMP Al Azhar. Sebanyak 150 murid antusias sekali dalam mengikuti kegiatan ruqyah masal.

“Saya takut ustadz, kalau saya nanti keluar jin dari tubuh saya, terus ngamuk-ngamuk”, kata Ito, salah satu murid peserta Pesantren alam.

Tidak jarang memang marqy yang belum pernah mengikuti ruqyah masal JRA (Jamiyyah Ruqyah Aswaja) merasa ketakutan karena berfikir ruqyah seperti yang ada di tayangan televisi, bisa berontak bahkan mengamuk.

Alhamdulillah dalam pengantar yang disampaikan oleh Ust. Hendyka salah satu praktisi JRA Tim sembada Slmean, Ito dan murid-murid SMP Al Azhar mulai memahami bahwa ruqyah ternyata tidak hanya untuk kesurupan atau kejinnan, tetapi juga untuk mengobati penyakit psikis dan medis dalam tubuh manusia. Bahkan bagi pelajar, ruqyah dapat sebagai terapi untuk menghindari sikap malas belajar dan banyak manfaat lainnya. Setelah penjelasan tentang keutamaan Al Quran dan menjelaskan bahwa Quran memiliki mukjizat sebagai obat (syifa’) kemudian dimulailah ruqyah masal dengan metode air asmaan dan metode sentuhan Al Zalzalah.

Kyai Puji dan Gus Nasrudin memimpin acara ruqyah masal dengan menyampaikan cara membuat air asmaan. Kemudian karena murid-murid akan menghadapi ujian pada tahun depan, Kyai Munawir sebagai guru pembimbing menyampaikan agar murid diruqyah sehingga tidak malas untuk belajar. Kyai Puji memimpin prosesi ruqyah masal dan menambah dengan membaca surat Al Alaq ayat 1-5 untuk memohon keberkahan agar murid-murid terhindar dari sikap malas belajar. Selama sekitar 2,5 jam prosesi ruqyah masal biidznillah berjalan lancar. Semoga murid-murid menjadi generasi Qurani yang shalih dan shalihah, penerus perjuangan Islam yang rahmatan lil’alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.