Saling Tahdzir Antar Peruqyah

Dalam kitab karya Jalaludin Asy-Syuyuthi (Lahir 894 H) ini, beliau memberikan tips 56 cara menangani orang Kesurupan/Epilepsi.

Uniknya salah satunya beliau menggunakan Asma’ yg mungkin kalau di baca Om Cipit atau Ustaz zaman now akan di katagorikan “Ruqyah Syirkiyyah” karena menganggap itu bukan Asma’ Alloh Ta’ala atau kalau zaman sekarang bisa jadi beliau (Imam Jalaludin Asy-Syuyuthi) di sebut dukun yang berkedok kyai, Wal Iyadzu Billah.

(Mungkin ngopinya kurang kentel ??? )

Para Ulama memasukkan Ruqyah ke dlm “Fiqh Thibb” karena pembahasan tentang “Thibb” bukan masuk bab “Ibadah”, meskipun adalah pembahasan “Fiqh Ibadah”. Kalau seandainya ruqyah masuk bab “Ibadah” tentu “WAJIB” menghilangkan segala bentuk Inovasi dan kreasi karena tentu akan jatuh ke dalam “BID’AH”, Padahal Faktanya banyak sekali peruqyah bahkan Ruqyah Syar’iyyah pun melakukan ruqyah masal, buka praktek di rumah, herbal yg belum tdk ada di zaman Nabi Dll, dimana hal ini tidak pernah di lakukan Nabi Shallohu Alaihi Wasallam.

Nah, Pemirsah Ipin Upin yang di hormati spengebob!

Konsekuensi metode “Ruqyah” di masukkan ke Ranah “Fiqh” adalah AKAN SELALU ADA PERPEDAAN PANDANGAN (IKhilafiyyah) ANTAR SESAMA PERUQYAH SAMPAI KAPANPUN HINGGA HARI KIAMAT ???

Bagi Al-faqir, perbedaan pandangan hasil dari Produck ijtihad “Fiqh Thibb” yakni Ruqyah bukanlah suatu kelemahan atau kekurangan karena perbedaan pandangan itu menunjukkan bahwa Islam memberikan kebebasan berpikir dlm mengemukakan pendapat, yg di ikat oleh syariat.

Dalam Ilmu Fiqh, Qowaid al Fiqh, Ushul Fiqh kita sering menjumpai kalimat “hal ini hanya perbedaan lafadz/penamaan” atau kalimat “pada prinsipnya berbedaan pendapat itu bersifat lafdzi” Dll. Dalam Ilmu Ushul Fiqh perbedaan pendapat merupakan khazanah intelektual para Ulama’ Islam yang tak ternilai Harganya.

Di Indonesia, ada lebih dari 100 komunitas Ruqyah (Hanya JRA yg lantang menyuarakan berafeliasi pada Nahdlatul Ulama’, Coba baca lagi MARS JRA ?? ) , tentu semuanya harus tunduk dan patuh terhadap aturan syariat dan yang paling penting bagi alfaqir adalah ETIKA saling menghormati antar peruqyah dan antar sesama komunitas ruqyah, sehingga terjerumus oleh jebakan batman eh setan semisal ujaran kebencian, saling mencela, membuka Aib sesama Muslim sehingga Endingnya “Komunitas Ruqyah” di jadikan sarana UUD (Ujung-ujungnya Duit) dan mencari popularitas.

?? Yg punya metode berdiri mentahdzir yg metode duduk

?? Yg punya metode menyembelih Jin mentahdzir yg metode menangkap Jin

?? Yg punya metode telunjuk jari mentahdzir yg metode botol.

?? Yg punya metode membakar jin mentahdzir metode herbal

?? Yng punya metode kamehame mentahdzir metode kunyuk melempar buah ???

?? Penangkapan Jin yang saya lakukan (padahal hanya kasus darurat yakni 4 kasus yakni Ibu hamil, anak kecil, orang tua, penyihir bangsa jin/Su’ala) pun pun juga pernah di tahdzir oleh peruqyah telunjuk jari (telunjuk jari juga bisa buat ruqyah, tdk hanya ngupil lho) ???

⛔ Mentahdzir nangkep Jin tapi melupakan kawan-nya yg suka menyembelih jin ???

? Bahkan kemarin alfaqir sendiri melihat, seorang ustadz yg terkenal yang mengeluarkan jin dengan “metode doa” mentahdzir semua metode ruqyah (bacaan qur’an) yg diniatkan untuk mengusir Jin. Beliau berpendapat bahwa bacaan qur’an yg diniatkan mengusir jin bukan lillahi ta’ala akan mengakibatkan Jin dari luar akan masuk menyerang seseorang.

Alhamdulillah, JRA tidak mentahdzir Ustadz tersebut tapi justru menghormati dan menjadikan sebuah masukan dan khazanah keilmuan dalam terapi.

Bagi alfaqir, jika kita ingin mengkritik sebuah “metode thibb” apapun istilah dan varian-nya maka hendaknya kita mengetahui dalil, dhobitnya, aplikasinya, kelemahan-kelebihanya.

Untuk menggunakan dalil tentu kita harus bersandar pada pengetahuan dalil-dalil yg Aam-Khas, Mutlak-Muqoyad, Mujmal-Mubayyan, Muhkam, Mufassar, Mutasyabih, Nash, Dhohir, Nasikh-mansukh, Amr, Nahi.

Jika tidak ada dalil di nash-pun belum tentu itu tidak dapat di gunakan dlm “Fiqh Thib” karena masih ada metode pengambilan dalil seperti Ijma’, Qiyas, Istihsan, Istishab, Zari’ah, Urf Dll.

Pengetahuan tentang hal ini sangat diperlukan supaya kita tidak mudah terjebak ke dalam pemahaman Islam Radikal yang mudah menjustifikasi kelompok lain sebagai Ahli Bid’ah, Syirik, Anti Islam, Uskun (Ustadz Dukun) Dll.

Maka sudahilah kegaduhan ini, mari bersinergi bermnafaat untuk negeri dan saling menghormati.

Terakhir yg ingin alfaqir sampaikan :

1) Tidaklah perlu menghabiskan energi hanya untuk membahas masalah khilafiyyah. Memang masalah seperti ini itu kalau di bahas itu mubadzir, kalau tidak di bahas Umat bingung. Nah, saya memilih mubadzir, semoga Alloh ta’ala mengampuni saya atas perbuatan mubadzir ini, Andai dosa, merekapun tentu dapat juga dosanya karena membangkitkan perkara-perkara yg mubadzir.

2) di Facebook, jika saya di kritik maka saya tidak akan terlalu banyak berkomentar karena saya tau bahwa saya berhadapan dengan orang yg sulit menerima pendapat orang lain.

Ingatlah bahwa ADAB RUQYAH ITU LEBIH PENTING DARIPADA ILMU RUQYAH.

Oia Shahabat Ipin Upin yang di mulyakan doraemon, Daripada postingan ini terlalu mubadzir, lebih baik saya beritahi salah satu dari 56 tips menangani kesurupan ala Imam Jalaludin Asy-Syuyuthi yaitu membaca ayat muqotto’ah :

بسم الله الرحمن الرحيم طه طس طسم كهيعص يس و القران الحكيم حم عسق ن و القلم و ما يسطرون ..

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published.