Dakwah JRA ‘Menang Tanpa Ngasorake’

Hari Rabu, 27 Nopember 2019 menjadi hari bersejarah bagi JRA, yakni ditandatanganinya Surat Keputusan (SK) dari Lembaga Dakwah PBNU oleh KH. Agus Salim (Ketua LD PBNU) tentang keputusan JRA menjadi Sayap LDNU.
Hal ini tentu memberi kekuatan legalitas dakwah JRA yang memang sejak awal menyatakan diri berafiliasi ke NU. Apalagi LD PBNU akhirnya juga akan menyelenggarakan Pelatihan Ruqyah JRA di Gedung PBNU, Jakarta.

JRA yang sudah resmi menjadi bagian dari NU secara struktural ini akan menjadi atensi tersendiri bagi beberapa pihak, antara lain :

1. Bagi sebagian pemegang kewenangan struktural NU di berbagai daerah yang selama ini bersikap apriori bahkan antipati terhadap JRA tanpa tabayyun. Mereka akan tersadarkan dengan sendirinya dengan SK LDPBNU ini. Demikian pula warga NU di akar rumput yang masih ragu-ragu mengikuti dakwah JRA pada akhirnya juga akan tercerahkan dengan sendirinya. Karena ternyata JRA bukanlah seperti apa yang mereka sangka selama ini.

2. Komunitas Ruqyah yang melabelkan Syar’iyah pada ruqyahnya, lalu menghukumi ruqyah syirkiyyah pada selain kelompok mereka, termasuk kepada ruqyah JRA. Mereka harus berfikir ulang kalaupun tidak bertaubat atas tuduhan mereka kepada JRA, karena mereka tahu bahwa PBNU pasti tidak sembarangan memutuskan JRA menjadi bagian dari LDNU. Pertimbangan dari berbagai sisi, terutama dari sisi keilmuan dan praktek ruqyah pasti sudah dipelajari secara mendalam. Artinya ruqyah syirkiyyah yang dialamatkan kepada JRA benar-benar fitnahan yang didasari oleh kedengkian semata.

Di sisi lain, pelbagai hal yang berhubungan dengan pengobatan suwuk/jampi atau ruqyah adalah bagian dari amalan dan tradisi ulama-ulama Nusantara sendiri sejak dahulu. Diawali oleh dakwahnya para Wali Songo, dimana mereka dalam dakwahnya juga kerap menggunakan pendekatan dakwah dengan metode pelayanan pengobatan kepada masyarakat bahkan kepada para pejabat-pejabat penting di suatu daerah atau kerajaan. Lalu dilanjutkan oleh para ulama-ulama Nusantara hingga kini.
Jadi JRA dapat dimaknai “mengumpulkan kembali tulang-belulang yang berserak”, mewadahi potensi suwuk dari para santrinya ulama agar dapat melanjutkan dakwah dengan lebih sistematis dan terarah yang sebanding dengan sistematisnya tantangan dakwah masa kini.
Ingatlah, NU lahir karena menyikapi gerakan masiv kaum wahabi kala itu dan Allah menjaga Ahlussunnah Waljamaah di Indonesia berkah NU. Kini JRA pun lahir karena menyikapi dakwah kaum takfiri itu via ruqyahnya yang telah berhasil mempengaruhi masyarakat luas melalui pelbagai media yang mereka kuasai.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَ ۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗ وَا للّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 30)

JRA akhirnya menang tanpa menghinakan.
Semoga keberkahan Allah kepada Indonesia tetap tercurah bi barokati NU dan JRA, aamiin.

Penulis:
_Noorhadi_
_Ketua PC Sukma Bidara Pemalang_

Leave a Reply

Your email address will not be published.