Kisah Kopdar Ruqyah Aswaja

Oleh : Kyai Imron Rosidi ( Ibnu Abdillah Al katiby )

Pagi yang cerah di hari Ahad, 29 January 2017 kediaman ustadz Ibnu Abdillah Al-Katibiy dipenuhi oleh rombongan para praktisi Ruqyah Aswaja Jatim yang dipimpin ustadz Allama Allaudin (gus Amak). Mereka berasal dari berbagai kota di Nusantara ini, di antaranya dari Jombang, Surabaya, Tuban, Purwokerto, Nganjuk, Kediri, Blitar, Cilacap, Purwodadi, Blora, Jakarta, Depok dan kota lainnya.

Kehadiran mereka dalam rangka Kopdar Nasional atau silaturahmi seluruh praktisi Ruqyah Aswaja se Nusantara dengan kuota terbatas.

Setelah menyantap sarapan pagi di kediaman ustadz Ibnu (Kyai Imron), mereka berkumpul di Musholla untuk acara inti yang diawali dengan pembacaan sholawat Simtuddurar diiringi tabuhan hadrah yang menjadikan suasa lebih hangat dan penuh khusyu’, hingga pada saat mahallul qiyam (berdiri), pada umumnya yang hadir meneteskan air mata penuh hidmat dan kerinduan yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.

Banyak sekali komentar positif dari jama’ah yang hadir, diantaranya kang Ali, warga Kanusan di situ ia mengatakan,  “Demi Allah, baru kali ini saya merasakan betul2 khusyu’, hati terenyuh dan menangis saat mahallul qiyam di acara itu. Belum pernah saya merasakan suasana hati yang seperti itu “.

Setelah mahallul qiyam dilanjut siraman rohani dan pesan-pesan penting dari shahibul bait yakni kyai Imron, diantara pesannya ;

“Ruqyah Aswaja di zaman sekarang ini sungguh sangat diperlukan, kalau di masa Nabi dan ulama salaf, jarang ada orang yang terkena gangguan jin atau sihir dan tidak semarak zaman sekarang. Sebab zaman dulu iman dan taqwanya cukup kuat. Kalau sekarang, sudah banyak manusia yang berperilaku seperti setan dan jin. Dan lagi pula banyak saudara kita yang terdoktrin oleh para praktisi ruqyah Wahabi, dikarenakan komunitas ruqyah mereka lebih terpublish di media ketimbang ruqyah Aswaja.  Ruqyah ini dakwah bil hal  wal qaul sehingga jangkauannya cukup luas dan efesien utk membimbing umat muslim maupun non kafir.”

Kyai Imron juga berpesan, jangan lupakan belajar ilmu agama yang penting, jangan sibuk mengobati orang lain, tapi diri tidak diobati dengan ilmu, khususnya ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Jaga hati kita dan Rendah hati kepada siapapun.

Kemudian berlanjut dengan pesan-pesan dari gus Amak diantara isinya ;

“Jaga adab dan sopan santun terhadap guru. Dan tanmkan rasa cinta kpda giru, jika ingin ilmu kita berkah dan manfaat dunia akherat. Jangan suka membanding-bandingkan antara guru atau ulama apalagi saling menjelekkan. Ini zaman akhir, zaman penuh fitnah dan keburukan. Dakwah Ruqyah adalah pemersatu umat.”

Lalu acara disambung dengan ta’arrufan antara para praktisi di setiap cabang dan kota. Subhanallah suasana begitu penuh kesyahduan, humor, canda, semangat, tangis air mata dan kehangatan persaudaraan meski banyak di antara mereka yang baru kenal dan jumpa.

Semoga momen seperti ini terus berlanjut dan terus langgeng hingga hari akhir dan hingga perjumpaan kubra kelak di surga Allah. Aamiin…

 

10 Replies to “Kisah Kopdar Ruqyah Aswaja”

Leave a Reply

Your email address will not be published.